Trik Agar Terhindar dari StresOleh : Diva Persada/28-desember-2011 |
![]()
Mencari penyebab stres
Penyebab stres biasanya memunculkan koneksi antara tubuh dan pikiran. Jika secara fisik merasa tidak enak badan namun Anda merasa lelah, berarti sesuatu telah terjadi pada kesadaran Anda. Stres kerap terjadi karena tekanan pikiran yang kemudian berdampak pada tubuh. Sebagai langkah awal, Anda dapat mencari hal-hal yang menyebabkan Anda stress, baik itu masalah pekerjaan, keluarga, atau hubungan dengan pasangan. Setelah Anda mengetahuinya, maka solusi pun dapat segera ditempuh. Belajar dari pengalaman Pengalaman adalah guru terbaik. Hal itu memang benar adanya. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita akan membantu Anda dalam menetapkan beberapa cara yang membuat permasalahan menjadi lebih baik. Jadi ketika tubuh Anda diserang penyakit, tandanya adalah ada sesuatu hal yang perlu Anda lihat di dalamnya. Karenanya, carilah penyebabnya agar Anda terhindar dari serangan stres yang lebih akut. Tanya diri sendiri Tanyakan pada diri sendiri apa sebenarnya keyakinan yang membuat Anda bekerja terlalu keras atau penyebab kekhawatiran tentang sebuah situasi. Ada berbagai macam cara pergeseran keyakinan seperti kondisi alam bawah sadar. Nah, jika Anda terus mengatakan bahwa alam Anda sering mengalami hal tersebut, tandanya Anda merasa pada zona aman sehingga dapat memberikan cinta yang lebih maksimal. Kebanyakan kehwatiran hadir karena seseorang mulai merasa tidak aman atau tidak dicintai. Rileks Menyisihkan waktu untuk tidur dapat membuat pikiran lebih �fresh� sehingga apapun yang Anda katakan pada diri sendiri akan lebih mudah diserap. Ini adalah waktu yang ideal untuk fokus pada apa yang Anda inginkan dalam hidup atau apa yang Anda merasa bersyukur atas apapun yang membuat Anda merasa lebih baik. Jauhkan pikiran-pikiran negatif sehingga Anda dapat menikmati tidur dengan lebih maksimal. Visualisasikan masa depan Ketika Anda benar-benar dilanda stres, biasanya Anda cenderung berada dalam zona �survival� dan lebih terfokus pada hal tertentu saja. Nah, jika Anda memvisualisasikan jangka panjang, apa yang Anda inginkan di masa depan, tubuh Anda akan menganggap bahwa Anda tidak berada pada ancaman sehingga Anda dapat terhindar dari ancaman stres. Jadi, pikirkan hal-hal yang membuat Anda bahagia selama 15 menit sehari, misalnya tentang bagaimana Anda ingin hidup dan ingin menjadi seseorang, atau memikirkan sesuatu impian yang membuat Anda bahagia dan tergiring untuk mewujudkannya. Tingkatkan energi Jika Anda menderita stres kronis, salah satu metode terbaik untuk mengatasinya adalah melakukan psikologi energi. Ini adalah teknik yang digunakan para praktisi terlatih dan melibatkan penyadapan pada meridians Anda (garis energi yang masuk melalui tubuh Anda yang digunakan dalam akupunktur) ketika stres secara bersamaan mengancam. Sesi ini akan membantu Anda mengeluarkan trauma tubuh sehingga tubuh dapat bersantai dan menyembuhkan dirinya sendiri. |
Rabu, 21 Desember 2011
KARYA ILMIAH
Kamis, 08 Desember 2011
SURAT DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Data Pribadi
Nama
: Diva
Persada
Jenis kelamin : Laki – Laki
Tempat, tanggal lahir : SALO 28-MEI-1992
Kewarganegaraan : Indonesia
Status perkawinan : Belum Kawin
Tinggi, berat badan : 165 cm, 51 kg
Kesehatan : Sangat Baik
Agama : Islam
Alamat lengkap : ASRAMA MILITER YONIF 132/BS, BANGKINANG 28411
Telepon, HP : 085374744412
E-mail : divapersada@yahoo.com
Jenis kelamin : Laki – Laki
Tempat, tanggal lahir : SALO 28-MEI-1992
Kewarganegaraan : Indonesia
Status perkawinan : Belum Kawin
Tinggi, berat badan : 165 cm, 51 kg
Kesehatan : Sangat Baik
Agama : Islam
Alamat lengkap : ASRAMA MILITER YONIF 132/BS, BANGKINANG 28411
Telepon, HP : 085374744412
E-mail : divapersada@yahoo.com
Pendidikan
Formal
1999-2006 : SD NEGERI 002 BATU BELAH
2006-2008 : SMPNEGERI 7 KAMPAR
2008-2011 : SMA NEGERI 1 BANGKINANG
Formal
1999-2006 : SD NEGERI 002 BATU BELAH
2006-2008 : SMPNEGERI 7 KAMPAR
2008-2011 : SMA NEGERI 1 BANGKINANG
Non Formal
: MAHASISWA UNIVESITAS RIAU
: JURUSAN ILMU KOMUNIKASI: FAKULTAS FIKOM
: MAHASISWA UNIVESITAS RIAU
: JURUSAN ILMU KOMUNIKASI: FAKULTAS FIKOM
Kemampuan
SEBAGAI KOMUNIKASI
SEBAGAI KOMUNIKASI
SOSIALISASI MENGHUBUNGKAN MASYARAKAT
Pengalaman
Kerja
Bekerja :-
Periode :-
Status :-
Posisi : -
Bekerja :-
Periode :-
Status :-
Posisi : -
BANGKINANG, 28 DESEMBER 2011
DIVA PERSADA
Senin, 28 November 2011
Biarkan Cinta Tumbuh di Hati
Indie selalu bersikap cuek dan jaim bila melihat Bamby yang sikapnya
sedikit pemalu, cuek, tapi manis. Dia bisa dibilang cowok kategori
idaman di sekolah. Dalam sikapnya yang jaim, hati Indie selalu
berbunga-bunga bila melihat si Bamby. Ya, itulah Indie, si miss jaim
yang sok bete plus nyebelin.
“Guys...tau gak? Kalo si Bamby yang mantannya lo itu In, udah putus sama adik kelas kita itu, siapa lagi kalo bukan Chelsae yang sedikit keturun bule itu”. Dengan terengah-engah dan melirik Indie, Indie pun menjelaskan dengan jaim. ”Emangnya gue pikirin, dia putus atau nggak, nggak penting banget deh!! Ya nggak sobat, EGP, Emang gue pikirin gitu loch? ha ha ha...”, tawanya bersama Maya dan Dewi.
“Jangan sok munafik deh In, padahal lo senangkan Bamby putus ama Chelsea?” cetus Aysi kesal.
“Ay, nggak mungkin gue senang atau suka sama Bemby, dia itu kan kurus, tinggi, culun lagi, trus jelek, idiiih... amit-amit deh gue suka lagi sama dia, gue benci sama dia“, kata Indie dengan pedenya dan sedikit emosi.
“Duuuh...lo itu gimana sih In, belum tentukan Bemby putus sama Chelsea trus dia mau balikan sama lo lagi, paling dia tambah bete lihat lo, jangan sok jaim deh lo!” cetusnya sambil tersenyum.
Bel berbunyi dan tidak ada lagi di luar kelas dan melanjutkan pelajaran, dan tidak terasa bel istirahat pun berbunyi. Indie duduk sendiri dan tiba-tiba Indie mendengar suara teriakan dari kejauhan sana memanggilnya.
“In, Indie!!” Indie pun spontan terkejut ternyata memanggil dirinya. Indie segera melihat ke samping kiri, ”gila In, gila!!“ ucap Maya sambil terengah-engah.
”Kenapa May?” tanya Indie heran. ”Sini ...lihat tu si Bamby main basket, keren benget ya?“ kata Maya antusias.
Mata Indie langsung tertuju ke lapangan basket dan terpaku pada sosok Bamby yang sedang menribble bola dan melakukan shoot tiga kali dengan pasti, Indiepun tersadar dari tatapan matanya, langsung menggantikan sosok dirinya yang jaim.
“Ooh”, ucap Indie datar dan bersikap secuek muingkin.
”In, lo beneran nggak suka sama Bamby. Dia itukan keren trus pintar lagi!” puji Maya geram.
“Emang gue harus suka sama Bemby?” katanya sinis.
Di antara percakapan itu, Mery datang dan memotong pembicaraan mereka. ”Heeyberdua aja nich, ikutan dong! Oya, aku suntuk nich?”. ”Lalu”? tanya Indie singkat. ”Ya seperi biasa, main tebak-tebakan, harus mau ya... ya... ya...?” paksa Mery kepada Maya dan Indie.
”Kenapa anjing kalau di panggil selalu menggoyangkan ekornya?” tanya Mery kepada Maya dan Indie. Indie pun langsung menjawab, ”ya iyalah, nggak mungkinkan kepalanya yang goyang-goyang, ntar disangka anjing gaul, ajep-ajep lagi”.
“Salah!!!” ucap Maya singkat.
”Loh kok gitu, kan benar May?” balas Indie protes. ”Indie, ini kan teka teki gue, jadi terserah gue dong mana yang benar atau salah, gimana sih?” jawabnya sedikit dingin.
”Nah sekarang giliran lo May?” ucap Indie.
”Kalau gue sih, ya nggak mungkin anjing dipanggil, perutnya yang goyang, berarti anjing kelaparan (Busung Lapar” jawabnya cetus.
Indie, Maya dan Mery tertawa dan Mery pun menjawabnya.”Lo..lo pada begok yah? Karena kalo anjingnya goyang pinggul ntar di kira Inul, ha..ha..!!” tawanya bersama Maya dan Indie.
”Uuuh...payah lo Mer? udahan yuk, mendingan kita masuk kelas, lagian permainan basketnya pun selesai”, ajak Maya. Mereka pun langsung masuk dan meninggalkan tempat itu.
Permainanpun tampak selesai, Bemby lewat di depan kelas Indie, namun semua berjalan dengan lancar. Bel pulangpun berbunyi. Indie dan temannya berjalan menuju puntu gerbang dan tiba-tiba Bamby datang menghalang langkah mereka dan berhenti tepat di depan mereka. Mereka terdiam dan Bamby pun berkata, ”kenapa lo tadi lihat-lihat gue, sewaktu gue main basket? Naksir ya sama gue?” tanya Bemby denang penuh canda, dan langsung membelokkan motornya dan meninggalkan mereka.
Maya, Indie dan Mery sontak saling berhadapan dan langsung meledek Indie. ”Ooo...kamu katehuan liatin Bamby lagi main basket, ha.. ha..”, Maya bernyanyi dengan suara sedikit palles dan semuanya tertawa. Indie langsung memotong sendirannya itu. ”Duuh..lo nggak usah nyanyi deh May, palles suara lo tu didengar, jadi mending lo diam aja, tau!!”.
“Ketemu di jalan sambil minum jamu, kacian deh kamu,” ledek si Aysi kepada Indie.
”Aduh..kalian ini selalu dan selalu saja meledek Indie, mendingan lo.. lo.. semua main tebak-tebakkan sama gue,pasti ggak bakalan bete”. Saran Mery yang semangat, merekapun tanpa pikir panjang langsung main tebak-tebakkan sambil jalan menuju ke rumah mereka masing-masing. Mery pun memberi pertanyaan di sepanjang jalan. ”Ni ya, kenapa tukang bakso kalo dangang suka mukul piringnya?” Aysi tidak mau kalah, langsung menjawab.
“Ya iyalah, nggak mungkin kan dia mukulin bedug, ntar di sangka lebaran lagi”, jawab Indie.
”Nah itu baru benar, tumben lo bisa jawab teka teki gue? Biasanya ngelantur”, pujinya sedikit heran.
”Ya suka-suka gue dong yang jawabkan gue bukan lo, gimana sih, secara?” ucapnya cetus. Mery, Maya dan Aysi langsung tersenyum. Mayapun ngeledek Indie, ”ya iyalah Indie nyambung soalnya udah kalah sama Bemby, sok jaim, duh kacian sohib kita ni ha..ha..!” tawanya Mery dan Aysi.
Keesokkan harinya di sekolah Aysi lewat di depan kelas Bamby dan Bamby pun memanggil Aysi. ”Aysi, gue mau ngomong ama kamu, si Indie itu sudah punya coeok baru ya?”, tanya Bamby sedikit ragu.
”Ee..kayaknya nggak tau tuh.. emang kenapa Bam? Lo suka ya sama dia lagi?”, tanyanya ingin tau.
“Eem, sebenarnya iya, gue suka sama dia, tapi gue ragu, ntar dia nolak gue, karena dulu gue pernah nyakitin hatinya. Lo mau ggak nolongin gue untuk bisa balikan lagi dengan Indie”, ungkap Bamby serius.
”Nggak pasti ya bisa bantu lo, masalahnya Indie itu sok jaim , tapi lo cowok yang jentelmen, gimana sih?”, singgung Aysi dan langsung meninggalkan Bamby, sementara Bamby hanya terdiam dan malu. Aysipun ke kelas dan menyamperin Indie yang lagi melamun dan mengejutkannya. ”Eh..elo Ay, ngejutin aja!!”, ucapnya sinis.
”Maap deh maap, abisnya sih, pag-pagi buta gini lo melamun, ntar kesambet lo!”, ucapnya ledekin Indie dan sambil tersemyum.
”Ee..iya gue lupa, In, sebenarnya Bamby suka sama lo lagi, apa lo bakalan terima dia?” tanya Aysi serius.
“Eee.. iya nggaklah. Gue ggak bakalan terima dia, tau sendirilah dia itu kan? Ay, maksud lo apaan sih? Lo itu bukan kasih saran ke gue, tapi lo?”, sambil menangis dan menahan emosinya dan meninggalkan Aysi. Aysi tidak sempat mengejar Indie dan berbicara sebentar. ”In, lo jangan salah paham dulu, maksud gue itu, gue nggak mau lo disakitin sama Bamby, ntar mentang-mentang dia abang kelas kita, dia seenaknya nyakitin lo, mempermainkan lo sesuka hatinya aja”, jelas Aysi kepada Indie.
Love Miss Jaim
Indie pun hanya terdiam dan menahan tangisannya dan melepaskan tangannnya dari Aysi. Mery dan Maya pun mendatangi Aysi.
”Lo apain Indie Ay, kok tampang Indie sedih dan muram begitu setelah ngomong sama lo tadi,” tanya Maya dan Meri.
”Ya habisnya gue kesal banget sama dia, gue udah tau kok kalau Indie tadi itu tersinggung dan dia juga pernah bilang ke gue kalau dia benci, nggak suka sama Bamby yang katanya jelek, culun, kurus tinggi”, aku Aysi.
Sambil mengahapus air mata Indie dan teman-temannya berjalan ke kelas. Tanpa disadari teman-teman Indie dan teman-teman Bamby asik bercakap-cakap di depan kelas Indie. Sebelum Indie tambah malu, Indie pun mengambil jalan mundur tujuh langkah, sewaktu Indie melangkah tiba-tiba seseorang memegang bahunya dan Indie pun terkejut dan langsung berbalik arah. Ternyata yang memegang bahunya adalah Bamby. Indie bingung dan pura-pura mengaruk kepalanya dan berkata dalam hati ”duh kenapa tambah gawat aja ini? mimpi apa ya gue tadi malam?”.
Tanpa pikir panjang Indie berlari dan cengar cengir, spontan Bamby memanggil Indie, ”Indie tunggu dulu”. Indie pun balik ke tempat tadi, ”ada apa?” dengan muka jaim dan sedikit grogi.
”Ee..gue udah tau kok semua sikap lo ke gue,” ucapnya salah tingkah.
”Ee.. beb... emmm kita basic to basic aja? sorry banget gue udah?” ungkap Indie sedikit kacau (berkata) terbata-bata dan Bamby pun memotong pembicaraan Indie dan menggodanya. ”Mau jadi Miss jaim lagi nih ceritanya?
“What?” jawab Indie memalingkan mukanya.
”Gue tunggu ya di gerbang, Bye miss jaim”, kata Bamby dengan ceria sambil melambaikan tangannya dan mengedipkan matanya. Dalam hati Bamby mengatakan” peaces.. peaces...” sambil mengacungkan jari lima tangannnya. Indie pun berdiri terpaku menatap punggung Bemby yang semakin jauh. ”Ini bukan mimpi kan? Bamby dia....? sambil tersenyum dan melanjutkan langhkahnya menuju kelas dan tidak berhenti tersenyum, merasa keajaiban ini. ”Terima kasih tuhan”, ungkap Indie dalam hati.
“Guys...tau gak? Kalo si Bamby yang mantannya lo itu In, udah putus sama adik kelas kita itu, siapa lagi kalo bukan Chelsae yang sedikit keturun bule itu”. Dengan terengah-engah dan melirik Indie, Indie pun menjelaskan dengan jaim. ”Emangnya gue pikirin, dia putus atau nggak, nggak penting banget deh!! Ya nggak sobat, EGP, Emang gue pikirin gitu loch? ha ha ha...”, tawanya bersama Maya dan Dewi.
“Jangan sok munafik deh In, padahal lo senangkan Bamby putus ama Chelsea?” cetus Aysi kesal.
“Ay, nggak mungkin gue senang atau suka sama Bemby, dia itu kan kurus, tinggi, culun lagi, trus jelek, idiiih... amit-amit deh gue suka lagi sama dia, gue benci sama dia“, kata Indie dengan pedenya dan sedikit emosi.
“Duuuh...lo itu gimana sih In, belum tentukan Bemby putus sama Chelsea trus dia mau balikan sama lo lagi, paling dia tambah bete lihat lo, jangan sok jaim deh lo!” cetusnya sambil tersenyum.
Bel berbunyi dan tidak ada lagi di luar kelas dan melanjutkan pelajaran, dan tidak terasa bel istirahat pun berbunyi. Indie duduk sendiri dan tiba-tiba Indie mendengar suara teriakan dari kejauhan sana memanggilnya.
“In, Indie!!” Indie pun spontan terkejut ternyata memanggil dirinya. Indie segera melihat ke samping kiri, ”gila In, gila!!“ ucap Maya sambil terengah-engah.
”Kenapa May?” tanya Indie heran. ”Sini ...lihat tu si Bamby main basket, keren benget ya?“ kata Maya antusias.
Mata Indie langsung tertuju ke lapangan basket dan terpaku pada sosok Bamby yang sedang menribble bola dan melakukan shoot tiga kali dengan pasti, Indiepun tersadar dari tatapan matanya, langsung menggantikan sosok dirinya yang jaim.
“Ooh”, ucap Indie datar dan bersikap secuek muingkin.
”In, lo beneran nggak suka sama Bamby. Dia itukan keren trus pintar lagi!” puji Maya geram.
“Emang gue harus suka sama Bemby?” katanya sinis.
Di antara percakapan itu, Mery datang dan memotong pembicaraan mereka. ”Heeyberdua aja nich, ikutan dong! Oya, aku suntuk nich?”. ”Lalu”? tanya Indie singkat. ”Ya seperi biasa, main tebak-tebakan, harus mau ya... ya... ya...?” paksa Mery kepada Maya dan Indie.
”Kenapa anjing kalau di panggil selalu menggoyangkan ekornya?” tanya Mery kepada Maya dan Indie. Indie pun langsung menjawab, ”ya iyalah, nggak mungkinkan kepalanya yang goyang-goyang, ntar disangka anjing gaul, ajep-ajep lagi”.
“Salah!!!” ucap Maya singkat.
”Loh kok gitu, kan benar May?” balas Indie protes. ”Indie, ini kan teka teki gue, jadi terserah gue dong mana yang benar atau salah, gimana sih?” jawabnya sedikit dingin.
”Nah sekarang giliran lo May?” ucap Indie.
”Kalau gue sih, ya nggak mungkin anjing dipanggil, perutnya yang goyang, berarti anjing kelaparan (Busung Lapar” jawabnya cetus.
Indie, Maya dan Mery tertawa dan Mery pun menjawabnya.”Lo..lo pada begok yah? Karena kalo anjingnya goyang pinggul ntar di kira Inul, ha..ha..!!” tawanya bersama Maya dan Indie.
”Uuuh...payah lo Mer? udahan yuk, mendingan kita masuk kelas, lagian permainan basketnya pun selesai”, ajak Maya. Mereka pun langsung masuk dan meninggalkan tempat itu.
Permainanpun tampak selesai, Bemby lewat di depan kelas Indie, namun semua berjalan dengan lancar. Bel pulangpun berbunyi. Indie dan temannya berjalan menuju puntu gerbang dan tiba-tiba Bamby datang menghalang langkah mereka dan berhenti tepat di depan mereka. Mereka terdiam dan Bamby pun berkata, ”kenapa lo tadi lihat-lihat gue, sewaktu gue main basket? Naksir ya sama gue?” tanya Bemby denang penuh canda, dan langsung membelokkan motornya dan meninggalkan mereka.
Maya, Indie dan Mery sontak saling berhadapan dan langsung meledek Indie. ”Ooo...kamu katehuan liatin Bamby lagi main basket, ha.. ha..”, Maya bernyanyi dengan suara sedikit palles dan semuanya tertawa. Indie langsung memotong sendirannya itu. ”Duuh..lo nggak usah nyanyi deh May, palles suara lo tu didengar, jadi mending lo diam aja, tau!!”.
“Ketemu di jalan sambil minum jamu, kacian deh kamu,” ledek si Aysi kepada Indie.
”Aduh..kalian ini selalu dan selalu saja meledek Indie, mendingan lo.. lo.. semua main tebak-tebakkan sama gue,pasti ggak bakalan bete”. Saran Mery yang semangat, merekapun tanpa pikir panjang langsung main tebak-tebakkan sambil jalan menuju ke rumah mereka masing-masing. Mery pun memberi pertanyaan di sepanjang jalan. ”Ni ya, kenapa tukang bakso kalo dangang suka mukul piringnya?” Aysi tidak mau kalah, langsung menjawab.
“Ya iyalah, nggak mungkin kan dia mukulin bedug, ntar di sangka lebaran lagi”, jawab Indie.
”Nah itu baru benar, tumben lo bisa jawab teka teki gue? Biasanya ngelantur”, pujinya sedikit heran.
”Ya suka-suka gue dong yang jawabkan gue bukan lo, gimana sih, secara?” ucapnya cetus. Mery, Maya dan Aysi langsung tersenyum. Mayapun ngeledek Indie, ”ya iyalah Indie nyambung soalnya udah kalah sama Bemby, sok jaim, duh kacian sohib kita ni ha..ha..!” tawanya Mery dan Aysi.
Keesokkan harinya di sekolah Aysi lewat di depan kelas Bamby dan Bamby pun memanggil Aysi. ”Aysi, gue mau ngomong ama kamu, si Indie itu sudah punya coeok baru ya?”, tanya Bamby sedikit ragu.
”Ee..kayaknya nggak tau tuh.. emang kenapa Bam? Lo suka ya sama dia lagi?”, tanyanya ingin tau.
“Eem, sebenarnya iya, gue suka sama dia, tapi gue ragu, ntar dia nolak gue, karena dulu gue pernah nyakitin hatinya. Lo mau ggak nolongin gue untuk bisa balikan lagi dengan Indie”, ungkap Bamby serius.
”Nggak pasti ya bisa bantu lo, masalahnya Indie itu sok jaim , tapi lo cowok yang jentelmen, gimana sih?”, singgung Aysi dan langsung meninggalkan Bamby, sementara Bamby hanya terdiam dan malu. Aysipun ke kelas dan menyamperin Indie yang lagi melamun dan mengejutkannya. ”Eh..elo Ay, ngejutin aja!!”, ucapnya sinis.
”Maap deh maap, abisnya sih, pag-pagi buta gini lo melamun, ntar kesambet lo!”, ucapnya ledekin Indie dan sambil tersemyum.
”Ee..iya gue lupa, In, sebenarnya Bamby suka sama lo lagi, apa lo bakalan terima dia?” tanya Aysi serius.
“Eee.. iya nggaklah. Gue ggak bakalan terima dia, tau sendirilah dia itu kan? Ay, maksud lo apaan sih? Lo itu bukan kasih saran ke gue, tapi lo?”, sambil menangis dan menahan emosinya dan meninggalkan Aysi. Aysi tidak sempat mengejar Indie dan berbicara sebentar. ”In, lo jangan salah paham dulu, maksud gue itu, gue nggak mau lo disakitin sama Bamby, ntar mentang-mentang dia abang kelas kita, dia seenaknya nyakitin lo, mempermainkan lo sesuka hatinya aja”, jelas Aysi kepada Indie.
Love Miss Jaim
Indie pun hanya terdiam dan menahan tangisannya dan melepaskan tangannnya dari Aysi. Mery dan Maya pun mendatangi Aysi.
”Lo apain Indie Ay, kok tampang Indie sedih dan muram begitu setelah ngomong sama lo tadi,” tanya Maya dan Meri.
”Ya habisnya gue kesal banget sama dia, gue udah tau kok kalau Indie tadi itu tersinggung dan dia juga pernah bilang ke gue kalau dia benci, nggak suka sama Bamby yang katanya jelek, culun, kurus tinggi”, aku Aysi.
Sambil mengahapus air mata Indie dan teman-temannya berjalan ke kelas. Tanpa disadari teman-teman Indie dan teman-teman Bamby asik bercakap-cakap di depan kelas Indie. Sebelum Indie tambah malu, Indie pun mengambil jalan mundur tujuh langkah, sewaktu Indie melangkah tiba-tiba seseorang memegang bahunya dan Indie pun terkejut dan langsung berbalik arah. Ternyata yang memegang bahunya adalah Bamby. Indie bingung dan pura-pura mengaruk kepalanya dan berkata dalam hati ”duh kenapa tambah gawat aja ini? mimpi apa ya gue tadi malam?”.
Tanpa pikir panjang Indie berlari dan cengar cengir, spontan Bamby memanggil Indie, ”Indie tunggu dulu”. Indie pun balik ke tempat tadi, ”ada apa?” dengan muka jaim dan sedikit grogi.
”Ee..gue udah tau kok semua sikap lo ke gue,” ucapnya salah tingkah.
”Ee.. beb... emmm kita basic to basic aja? sorry banget gue udah?” ungkap Indie sedikit kacau (berkata) terbata-bata dan Bamby pun memotong pembicaraan Indie dan menggodanya. ”Mau jadi Miss jaim lagi nih ceritanya?
“What?” jawab Indie memalingkan mukanya.
”Gue tunggu ya di gerbang, Bye miss jaim”, kata Bamby dengan ceria sambil melambaikan tangannya dan mengedipkan matanya. Dalam hati Bamby mengatakan” peaces.. peaces...” sambil mengacungkan jari lima tangannnya. Indie pun berdiri terpaku menatap punggung Bemby yang semakin jauh. ”Ini bukan mimpi kan? Bamby dia....? sambil tersenyum dan melanjutkan langhkahnya menuju kelas dan tidak berhenti tersenyum, merasa keajaiban ini. ”Terima kasih tuhan”, ungkap Indie dalam hati.
Mendulang Harta
Hari panas terik. Sang surya bersinar dengan ganasnya. Membuat ubun-ubun
terasa mendidih. Aris mempercepat langkah menuju rumahnya. Akhirnya
sampai juga. Dia duduk melepas lelah sambil membuka sepatunya.
‘’Huh, lega rasanya,’’ ia menghela napas dan beranjak masuk ke dalam. Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia menemukan uang berserakan di lantai.
‘’Hah, uang apa pula ini Mak,’’ katanya heran. Tentu saja dia heran. Di zaman serba sulit ini uang dibiarkan berserakan di lantai begitu saja. ‘’Untung aku bukan maling yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah,’’ pikirnya nakal.
“Uang punya Mak. Berikan sama Mak. Bapak mau keluar,’’ sahut bapak.
‘’Hmm, Mak sudah punya uang sekarang. Jadi, aku bisa minta uang untuk membayar uang les dan LKS,’’ pikirnya.
‘’Maaak, Oo Maaak,’’ panggil Aris.
‘’Ada apa Ris. Ganggu orang saja kamu ini,’’ kata maknya jengkel.
Lalu Aris menyerahkan uang tersebut pada maknya. Ia menjelaskan bahwa uang les dan LKS-nya belum dibayar. Sedang pihak sekolah sudah beberapa kali menagihnya. Tapi bukannya diberi uang, dia malah dimarahi oleh maknya.
‘’Saya heran dengan sekolah kamu itu. Banyak sekali tetek bengek yang harus dibayar. Kan ada dana BOS. Untuk apa dana BOS itu? Sudahlah, tidak usah kamu sekolah. Buang-buang uang saja. Sekarang karet itu tidak berharga, tahu?’’ Katanya dengan muka merah menyala.
Aris sudah menjelaskan bahwa dana BOS itu tidak mencukupi, karena sekolahnya hanya sekolah swasta dan banyak memakai tenaga honor. Tapi maknya tidak mau tahu dengan semua itu. Dia malah menyuruh Aris cari uang sendiri. Kemanakah uang kan dicarinya? Ah, Emak tak mengertilah dengan pendidikan. Padahal pendidikan itu sangat penting. Dengan pendidikan kita akan bisa menatap masa depan yang gemilang.
‘’Buat apa kamu sekolah? Lihat itu hah, banyak yang sekolah tinggi, tapi akhirnya cuma jadi pengangguran, kan? Jadi buat apa sekolah?’’ tambah maknya lagi.
Aris lebih memilih diam dari pada menjawab omongan maknya. Ia menyayangkan kenapa maknya mempunyai pola pikir yang terbelakang seperti itu? Sekarang orang berlomba-lomba mencari ilmu, tapi mak malah melarangnya.
‘’Mak... mak, mengapa Emak lebih suka mengumpulkan uang, beli emas, dan membanggakan diri pada orang lain dari pada menyekolahkan kami anak-anak mak. Itu akan lebih bermanfaat,’’ gumamnya dalam hati.
Aris sudah lelah mendengarkan omelan emaknya itu. Dia keluar dan pergi entah ke mana.
Sedangkan si Lina, adiknya baru saja pulang dari sekolah SMP yang tidak jauh dari rumahnya. Setibanya di rumah, mak menyuruhnya mandi dan berpakaian yang bagus. Tidak biasanya mak seperti ini. Ternyata si Lina akan dilamar oleh Pak Anto duda kaya yang tinggal di desa sebelah. Tentu saja Lina menolak dengan keras semua itu. Namun, mak tetap bersikeras dengan kemauannya. Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa anaknya itu di bawah umur untuk menikah. Apalagi akan dinikahkan dengan seorang duda. Ah, benar-benar tidak masuk akal.
Emak sudah terpengaruh oleh harta. Mak bilang, ia iri pada teman-teman arisannya yang kaya dan hidup mewah. Sedangkan mak tidak punya apa-apa. Mak ingin menabung untuk menggapai semua itu. Kalian tidak usah sekolah. Hanya menambah beban saja.
Hari-hari berikutnya, Aris tak lagi bersekolah. Ia berhenti dan bergaul dengan teman-temannya yang tidak sekolah. Sebenarnya hati kecilnya selalu sedih tiap kali melihat teman-temannya bersekolah. Tapi apa mau dikata, mak sudah tidak mau lagi menyekolahkannya.
Setiap kali ia ikut teman-temannya dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh teman-teman baru itu. Sedangkan mak sudah tidak peduli lagi dengannya. Ia sibuk mengumpulkan harta, apalagi sekarang ia telah punya menantu kaya.
Waktu terus berjalan. Aris semakin terjerumus dalam kehidupan yang tidak memiliki masa depan. Ia telah berubah. Hingga suatu hari dengan tergopoh-gopoh, Enda temannya Aris datang dan memberitahukan pada Emak kalau Aris ditangkap polisi tadi malam. Tapi sekarang ia dirawat di rumah sakit. Overdosis katanya. Habis pesta sabu-sabu.
Bagai guntur di siang bolong, Emak dan bapak kaget bukan kepalang. Tapi apa mau dikata. Itu salah mereka, mereka yang menginginkan anaknya seperti itu. Mak menangis-nangis menyesali perbuatan dan siapnya yang tak mau menyekolahkan anaknya itu.
‘’Sudahlah Nur, mudah-mudahan Aris lekas sembuh dan kita bisa kumpul lagi seperti dulu. Akan kita bina keluarga kita. Biarlah kita hidup sederhana, asalkan hati dan keluarga kita bahagia,’’ kata Bapak dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha menenangkan hati mak.
‘’Bapak benar, kini mari kita bina dan songsong keluarga sakinah,’’ kata mak mantap.
‘’Huh, lega rasanya,’’ ia menghela napas dan beranjak masuk ke dalam. Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia menemukan uang berserakan di lantai.
‘’Hah, uang apa pula ini Mak,’’ katanya heran. Tentu saja dia heran. Di zaman serba sulit ini uang dibiarkan berserakan di lantai begitu saja. ‘’Untung aku bukan maling yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah,’’ pikirnya nakal.
“Uang punya Mak. Berikan sama Mak. Bapak mau keluar,’’ sahut bapak.
‘’Hmm, Mak sudah punya uang sekarang. Jadi, aku bisa minta uang untuk membayar uang les dan LKS,’’ pikirnya.
‘’Maaak, Oo Maaak,’’ panggil Aris.
‘’Ada apa Ris. Ganggu orang saja kamu ini,’’ kata maknya jengkel.
Lalu Aris menyerahkan uang tersebut pada maknya. Ia menjelaskan bahwa uang les dan LKS-nya belum dibayar. Sedang pihak sekolah sudah beberapa kali menagihnya. Tapi bukannya diberi uang, dia malah dimarahi oleh maknya.
‘’Saya heran dengan sekolah kamu itu. Banyak sekali tetek bengek yang harus dibayar. Kan ada dana BOS. Untuk apa dana BOS itu? Sudahlah, tidak usah kamu sekolah. Buang-buang uang saja. Sekarang karet itu tidak berharga, tahu?’’ Katanya dengan muka merah menyala.
Aris sudah menjelaskan bahwa dana BOS itu tidak mencukupi, karena sekolahnya hanya sekolah swasta dan banyak memakai tenaga honor. Tapi maknya tidak mau tahu dengan semua itu. Dia malah menyuruh Aris cari uang sendiri. Kemanakah uang kan dicarinya? Ah, Emak tak mengertilah dengan pendidikan. Padahal pendidikan itu sangat penting. Dengan pendidikan kita akan bisa menatap masa depan yang gemilang.
‘’Buat apa kamu sekolah? Lihat itu hah, banyak yang sekolah tinggi, tapi akhirnya cuma jadi pengangguran, kan? Jadi buat apa sekolah?’’ tambah maknya lagi.
Aris lebih memilih diam dari pada menjawab omongan maknya. Ia menyayangkan kenapa maknya mempunyai pola pikir yang terbelakang seperti itu? Sekarang orang berlomba-lomba mencari ilmu, tapi mak malah melarangnya.
‘’Mak... mak, mengapa Emak lebih suka mengumpulkan uang, beli emas, dan membanggakan diri pada orang lain dari pada menyekolahkan kami anak-anak mak. Itu akan lebih bermanfaat,’’ gumamnya dalam hati.
Aris sudah lelah mendengarkan omelan emaknya itu. Dia keluar dan pergi entah ke mana.
Sedangkan si Lina, adiknya baru saja pulang dari sekolah SMP yang tidak jauh dari rumahnya. Setibanya di rumah, mak menyuruhnya mandi dan berpakaian yang bagus. Tidak biasanya mak seperti ini. Ternyata si Lina akan dilamar oleh Pak Anto duda kaya yang tinggal di desa sebelah. Tentu saja Lina menolak dengan keras semua itu. Namun, mak tetap bersikeras dengan kemauannya. Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa anaknya itu di bawah umur untuk menikah. Apalagi akan dinikahkan dengan seorang duda. Ah, benar-benar tidak masuk akal.
Emak sudah terpengaruh oleh harta. Mak bilang, ia iri pada teman-teman arisannya yang kaya dan hidup mewah. Sedangkan mak tidak punya apa-apa. Mak ingin menabung untuk menggapai semua itu. Kalian tidak usah sekolah. Hanya menambah beban saja.
Hari-hari berikutnya, Aris tak lagi bersekolah. Ia berhenti dan bergaul dengan teman-temannya yang tidak sekolah. Sebenarnya hati kecilnya selalu sedih tiap kali melihat teman-temannya bersekolah. Tapi apa mau dikata, mak sudah tidak mau lagi menyekolahkannya.
Setiap kali ia ikut teman-temannya dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh teman-teman baru itu. Sedangkan mak sudah tidak peduli lagi dengannya. Ia sibuk mengumpulkan harta, apalagi sekarang ia telah punya menantu kaya.
Waktu terus berjalan. Aris semakin terjerumus dalam kehidupan yang tidak memiliki masa depan. Ia telah berubah. Hingga suatu hari dengan tergopoh-gopoh, Enda temannya Aris datang dan memberitahukan pada Emak kalau Aris ditangkap polisi tadi malam. Tapi sekarang ia dirawat di rumah sakit. Overdosis katanya. Habis pesta sabu-sabu.
Bagai guntur di siang bolong, Emak dan bapak kaget bukan kepalang. Tapi apa mau dikata. Itu salah mereka, mereka yang menginginkan anaknya seperti itu. Mak menangis-nangis menyesali perbuatan dan siapnya yang tak mau menyekolahkan anaknya itu.
‘’Sudahlah Nur, mudah-mudahan Aris lekas sembuh dan kita bisa kumpul lagi seperti dulu. Akan kita bina keluarga kita. Biarlah kita hidup sederhana, asalkan hati dan keluarga kita bahagia,’’ kata Bapak dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha menenangkan hati mak.
‘’Bapak benar, kini mari kita bina dan songsong keluarga sakinah,’’ kata mak mantap.
Setitik Gerimis di Pagi Hari
Namaku Zie. Aku adalah anak tunggal sekaligus yatim. Aku sangat menyukai
gambar dan lukisan. Tetapi penyakit jantung ayah kambuh saat penyerahan
hadiah kemenanganku atas lomba lukis se-Riau, dan ia tak pernah melihat piagam kemenanganku untuk selamanya.
Sejak kejadian itu, aku sulit untuk membuat gambar ataupun melukis lagi. Dan tugasku sebagai ilustrator mading sekolah sering tersendat dan tidak sesuai lagi dengan keinginanku.
“Hei, Zie!” teriak Bima dari luar kelas.
Bima adalah ketua ilustrator. Saat itu aku sedang membuat ilustrasi untuk majalah dinding bulan ini yang ditugaskan olehnya. Tapi sepertinya dia akan meminta tugasku sekarang.
“Sorry, Bim,” aku kembali melanjutkan menggambar, tanpa menoleh,”mungkin setengah jam lagi siap.”
“Entar aku kesini semuanya udah clear, oke?”
Tanpa menunggu jawabanku, Bima membalikkan langkahnya.
Andaikan aku bisa kembali menggambar seperti dulu, mungkin tugas seperti ini akan selesai dari tadi. Oh, god!
Kerongkonganku terasa kering. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli minuman di kantin yang cukup jauh juga dari kelas ini.
Sesaat setelah meneguk pop ice rasa anggur kesukaanku, terdengar pembicaraan di belakangku.
“Kenapa lagi dia?” kata suara yang kurang kukenal.
“Nggak tau, tuh! Buat ilustrasi gitu aja lama betul,” aku mengenali suara ini sebagai suara Bima,
“Jangan-jangan ilustrasinya baru siap besok!” celetuk temannya Bima.
“Tauk, ah!” jawab Bima geram, “Cewek itu selalu suka seenaknya. Udah jelek, belagu lagi! Untung…,”
Aku tak lagi mendengar kelanjutan percakapan itu, mereka sudah pergi dari tempat duduk mereka. Dan tanpa kusadari airmataku sudah jatuh membasahi pipiku yang tak mulus karena jerawat.
Besoknya aku tak merasa ingin pergi ke sekolah. Begitu juga dua hari berikutnya. Ibu tidak banyak bertanya kenapa aku tidak ke sekolah. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai penerjemah.
Beberapa orang mengirimkan pesan padaku lewat sms, tapi semuanya tidak menanyakan keadaanku. Mereka hanya memintaku untuk melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai. Betapa bencinya aku pada mereka semua!
Di hari keempat sejak kejadian itu, aku memutuskan untuk kembali ke sekolah. Dan aku membulatkan tekad untuk tidak memedulikan mereka, yang sebagian besar membenciku.
Hari ini ada seorang murid baru cewek pindahan dari Selat Panjang. Anak baru itu sangat cantik, dan dia memperkenalkan dirinya dengan nama Fira.
“Hai, aku boleh duduk disampingmu?” tanya Fira kepadaku
“Silahkan, asal jangan ngeganggu aja,” jawabku
“Baiklah,” katanya sambil tersenyum, dan mengacungkan dua jarinya membentuk tanda damai kepadaku, “Aku janji nggak bakal ngerepotin, kok!”
Fira anak yang senang bercerita. Walaupun aku tidak terlalu suka dengan orang yang banyak bicara, tapi aku selalu betah mendengarkan ceritanya yang sebagian besar terdengar konyol. Fira juga membuatku jadi tidak minder kalau berada di dekatnya, karena dia selalu menggandeng tanganku.
“Zie, kamu kok diam saja,” Tanya Fira suatu hari, “sekali-kali cerita gitu sama aku. Perasaan selama ini aku terus yang bekoak-koak sendiri kaya’ tante-tante cerewet!”
Aku tertawa mendengar perkataan Fira yang polos itu. Kejujurannya inilah yang mungkin menyebabkan aku betah mendengarkan ceritanya.
“Entah, Fir,” kataku akhirnya setelah selesai tertawa, “Aku tidak punya bahan cerita yang menarik untuk diceritakan.”
“Kok gitu?” aku tidak menjawab pertanyaannya. Bagiku cukup kalau dia bersikap seperti ini padaku tanpa harus terkontaminasi oleh cerita-ceritaku nantinya.
“Zie!” teriak Bima dari depan pintu kelas
Aku menjawab dengan mendengus menandakan bahwa aku mendengarkannya.
“Tugas kemarin udah selesai?”
“Nggak,” jawabku sekenanya, “aku nggak mood ngerjainnya.”
“Maksudmu? Kamu ini, udah lama dikasih tugasnya, belum kelar-kelar juga! Lelet amat sih jadi orang!” teriak Bima, “Niat kerja nggak sih, dasar cewek jelek!”
Darahku hampir mendidih mendengar perkataannya barusan. Kemudian tiba-tiba Fira sudah berdiri di depanku dan menarikku mendekati Bima.
“Zie, kamu tahu nggak, gara-gara cowok yang selalu memandang fisik seseorang kaya’ gini aku pindah dari sekolahku yang lama,” setelah berkata begitu, Fira mengepalkan tinjunya dan mengarahkannya ke perut Bima, dan membuat Bima meringis kesakitan.
“Apaan sih cewek ini,” kata Bima sambil memegangi perutnya yang meradang, “Kamu udah gila, ya! Dasar Cewek Lesbi!”
Kali ini aku yang naik pitam. aku masih bisa bersabar kalau dia menghinaku. Tapi tidak kalau dia berani menghina satu-satunya teman yang begitu baik padaku. Aku menampar mukanya berkali-kali hingga muka Bima yang putih mulus berubah merah lebam.
“Itu hadiah buatmu karena nggak pernah sopan sama cewe’,” kataku akhirnya, dan melemparkan sebuah amplop yang jatuh di atas perutnya, “dan itu surat pengunduran diriku,”
Betapa leganya aku karena telah melampiaskan kekesalanku selama ini. Setelah hari itu, entah kenapa jari-jemariku kembali menuruti keinginanku, sehingga aku kembali dapat melukis seperti dulu. Thanks God!
Sejak kejadian itu, aku sulit untuk membuat gambar ataupun melukis lagi. Dan tugasku sebagai ilustrator mading sekolah sering tersendat dan tidak sesuai lagi dengan keinginanku.
“Hei, Zie!” teriak Bima dari luar kelas.
Bima adalah ketua ilustrator. Saat itu aku sedang membuat ilustrasi untuk majalah dinding bulan ini yang ditugaskan olehnya. Tapi sepertinya dia akan meminta tugasku sekarang.
“Sorry, Bim,” aku kembali melanjutkan menggambar, tanpa menoleh,”mungkin setengah jam lagi siap.”
“Entar aku kesini semuanya udah clear, oke?”
Tanpa menunggu jawabanku, Bima membalikkan langkahnya.
Andaikan aku bisa kembali menggambar seperti dulu, mungkin tugas seperti ini akan selesai dari tadi. Oh, god!
Kerongkonganku terasa kering. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli minuman di kantin yang cukup jauh juga dari kelas ini.
Sesaat setelah meneguk pop ice rasa anggur kesukaanku, terdengar pembicaraan di belakangku.
“Kenapa lagi dia?” kata suara yang kurang kukenal.
“Nggak tau, tuh! Buat ilustrasi gitu aja lama betul,” aku mengenali suara ini sebagai suara Bima,
“Jangan-jangan ilustrasinya baru siap besok!” celetuk temannya Bima.
“Tauk, ah!” jawab Bima geram, “Cewek itu selalu suka seenaknya. Udah jelek, belagu lagi! Untung…,”
Aku tak lagi mendengar kelanjutan percakapan itu, mereka sudah pergi dari tempat duduk mereka. Dan tanpa kusadari airmataku sudah jatuh membasahi pipiku yang tak mulus karena jerawat.
Besoknya aku tak merasa ingin pergi ke sekolah. Begitu juga dua hari berikutnya. Ibu tidak banyak bertanya kenapa aku tidak ke sekolah. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai penerjemah.
Beberapa orang mengirimkan pesan padaku lewat sms, tapi semuanya tidak menanyakan keadaanku. Mereka hanya memintaku untuk melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai. Betapa bencinya aku pada mereka semua!
Di hari keempat sejak kejadian itu, aku memutuskan untuk kembali ke sekolah. Dan aku membulatkan tekad untuk tidak memedulikan mereka, yang sebagian besar membenciku.
Hari ini ada seorang murid baru cewek pindahan dari Selat Panjang. Anak baru itu sangat cantik, dan dia memperkenalkan dirinya dengan nama Fira.
“Hai, aku boleh duduk disampingmu?” tanya Fira kepadaku
“Silahkan, asal jangan ngeganggu aja,” jawabku
“Baiklah,” katanya sambil tersenyum, dan mengacungkan dua jarinya membentuk tanda damai kepadaku, “Aku janji nggak bakal ngerepotin, kok!”
Fira anak yang senang bercerita. Walaupun aku tidak terlalu suka dengan orang yang banyak bicara, tapi aku selalu betah mendengarkan ceritanya yang sebagian besar terdengar konyol. Fira juga membuatku jadi tidak minder kalau berada di dekatnya, karena dia selalu menggandeng tanganku.
“Zie, kamu kok diam saja,” Tanya Fira suatu hari, “sekali-kali cerita gitu sama aku. Perasaan selama ini aku terus yang bekoak-koak sendiri kaya’ tante-tante cerewet!”
Aku tertawa mendengar perkataan Fira yang polos itu. Kejujurannya inilah yang mungkin menyebabkan aku betah mendengarkan ceritanya.
“Entah, Fir,” kataku akhirnya setelah selesai tertawa, “Aku tidak punya bahan cerita yang menarik untuk diceritakan.”
“Kok gitu?” aku tidak menjawab pertanyaannya. Bagiku cukup kalau dia bersikap seperti ini padaku tanpa harus terkontaminasi oleh cerita-ceritaku nantinya.
“Zie!” teriak Bima dari depan pintu kelas
Aku menjawab dengan mendengus menandakan bahwa aku mendengarkannya.
“Tugas kemarin udah selesai?”
“Nggak,” jawabku sekenanya, “aku nggak mood ngerjainnya.”
“Maksudmu? Kamu ini, udah lama dikasih tugasnya, belum kelar-kelar juga! Lelet amat sih jadi orang!” teriak Bima, “Niat kerja nggak sih, dasar cewek jelek!”
Darahku hampir mendidih mendengar perkataannya barusan. Kemudian tiba-tiba Fira sudah berdiri di depanku dan menarikku mendekati Bima.
“Zie, kamu tahu nggak, gara-gara cowok yang selalu memandang fisik seseorang kaya’ gini aku pindah dari sekolahku yang lama,” setelah berkata begitu, Fira mengepalkan tinjunya dan mengarahkannya ke perut Bima, dan membuat Bima meringis kesakitan.
“Apaan sih cewek ini,” kata Bima sambil memegangi perutnya yang meradang, “Kamu udah gila, ya! Dasar Cewek Lesbi!”
Kali ini aku yang naik pitam. aku masih bisa bersabar kalau dia menghinaku. Tapi tidak kalau dia berani menghina satu-satunya teman yang begitu baik padaku. Aku menampar mukanya berkali-kali hingga muka Bima yang putih mulus berubah merah lebam.
“Itu hadiah buatmu karena nggak pernah sopan sama cewe’,” kataku akhirnya, dan melemparkan sebuah amplop yang jatuh di atas perutnya, “dan itu surat pengunduran diriku,”
Betapa leganya aku karena telah melampiaskan kekesalanku selama ini. Setelah hari itu, entah kenapa jari-jemariku kembali menuruti keinginanku, sehingga aku kembali dapat melukis seperti dulu. Thanks God!
Tersenyumlah Sahabat Ku!!!
Kala mentari sudah mulai
menampakan dirinya, pancaran sinarnya pun mulai terasa hangat. Tubuhku
sudah siap untuk menyambut pagi ini, meski bahan makalah masih
terbengkalai, laporan karya ilmiah masih terbengkalai, tugas-tugas
sekolah pun masih terbengkalai dan sekarang muncul pula masalah yang
memusingkan kepala. Meski pikiranku ini tak karuan, aku paksakan kaki
ini untuk terus melangkah ke tempat tujuan.
Dia
datang dengan wajah cemberut, yang duh .... aku tak suka, wajah itu
mengingatkan aku pada musuh-musuh teroris yang seakan-akan ingin
memangsa negeri ini sampai tak berdaya. Gayanya, senyum sinisnya,
bicaranya, diamnya dan aku muak pada semua yang berhubungan dengannya.
Iya ... aku tau, dia sahabatku. Sahabat yang selama ini ada disampingku, berjuang dan hidup di tempat yang sama, bahkan tak jarang makan
dan tidur bersama. Tapi sedihnya kebersamaan yang indah itu harus
terenggut begitu saja, kami mengalami perang dingin semenjak kebersamaan
itu terekat semakin indah. Awalnya tidak ada yang salah, kami tetap
seperti dulu, akrab dan selalu bersama, dimana-mana berdua, dimana diri
ini berada, disitu pun ada dia. Tapi seketika bencana datang menghadang,
ombak yang besar menghancurkan sendi-sendi persahabatan kami, dan yang ada kini hanya tinggal puing-puing tak berarti.
Aku sedih .. !!
Iya ,, aku sangat sedih. Dalam waktu sekejap persahabatan yang indah itu hancur berkeping-keping. Wajah manis berubah menakutkan, tak ada kata yang keluar dari bibirku dan bibirnya. Bibir itu mengatup tanpa komando. Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan, kebersamaan berubah menjadi perpisahan. Meski raga bersatu tapi jiwa terpisah.
Sering aku bertanya dalam hati, kenapa ini bisa terjadi?? Mengapa kesedihan yang sama harus terulang kembali, mengapa harus ada kesedihan setelah kesedihan itu pergi ??
Tapi sayang, tak ada jawaban !
Pertanyaan hanya tinggal tanya. Aku hanya manusia biasa, aku tetaplah insan lemah yang tak punya daya. Aku tidak bisa mengelak dari bencana itu.
“ Rha, besok giliran kelompok kita untuk presentasi, tadi siang Fachri kasih tau aku.” Aku beranikan diri menghampirinya. Aku harus bisa melawan syetan itu. Aku tidak mau dicap sebagai orang yang suka memutuskan tali silaturrahmi. Seperti sabda Nabi dalam sebuah hadistnya : “Tidak akan masuk surga orang yang mendiamkan saudaranya selama lebih dari 3 hari.”
Percuma beribadah sepanjang masa kalau akhirnya tetap masuk neraka. Itulah kenapa aku mati-matian ungkapkan sepatah dua patah kata padanya. Aku tak peduli apakah dia mau dengar atau tidak, ditanggapi atau tidak aku tak peduli. Biar saja, yang yang penting tugas dan kewajibanku selesai. Dia mengangguk sambil bergumam pelan, aku tidak sempat mendengar gumaman itu karena aku terlanjur mengangkat kaki dari sana, aku tak punya daya untuk terus menopang kaki di tempat itu. Tak ada ucapan terima kasih yang aku dengar dari bibirnya. Biarlah ! aku tak butuh ucapan terimakasih itu, yang pasti aku lega karena kewajiban itu berhasil aku tunaikan. Setidaknya aku tidak akan masuk neraka karenanya. Itu saja !
Lambat laun perang dingin itu tercium juga. Teman-teman sekelas pun heran melihat aku yang tidak seperti biasanya. Mereka yang tau aku dan kenal siap aku, mereka yang selalu melihat aku dengan Zahra selalu bersama-sama. Tapi sekarang .. mereka tak melihat lagi hal itu. Mungkin mereka juga sudah tau masalah antara aku dan Zahra.
Aku ditemui Nabil setelah bel pulang sekolah di ruang kelas.
“ Syah, ada masalah ya sama Zahra ?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk disampingku. Mau tak mau aku harus jujur.
“ Iya, aku juga ngga tau kenapa bisa terjadi ?” ujarku.
“ Awalnya gimana sih kejadiannya ?” Nabil balik Tanya.
“ Aku rasa karena masalah kemarin, dia nanya tapi aku menanggapinya kurang ramah. Seharusnya dia juga ngerti kalau saat itu aku lagi bingung dan panik.”
” Kamu kenapa jawabnya kurang ramah?” protes Nabil.
”Aku kesal aja, dia ngga sopan sama aku. Memang dia anggap aku apa ?” Aku balik protes.
” Aku tau, semuanya terjadi karena kalian sama-sama panik dan terjadilah salah paham seperti itu. Sekarang kamu lupakan saja masalah itu.kembalilah bersikap biasa, bersahabatlah seperti dulu. Aku ngga suka kamu seperti itu.
” Sebenarnya aku yang salah, seharusnya aku bersikap bijaksana, tidak boleh membalas keegoan dengan keegoan yang lain.”
” Nah ,, itu kamu tau sendiri. Sekarang kamu harus seperti dulu lagi, sapa dan bicaralah denganya. Jangan takut dicuekin, itu tantangan mulia untukmu. Ayo Aisyah ...berjuanglah ! sangat mulia orang yang menghubungkan silaturrahmi.” Nabil menasehatiku. Aku bersyukur punya teman yang perhatian dan suka mengingatkan. Dia memang teman yang baik.
” Makasih ya ,, Bil. Aku akan berjuang mengembalikan jalinan itu kembali. Mohon doanya ya !!
Aku menggerakan bibir sambil membentuknya menjadi lebih indah, itu senyuman paling manis yang aku ciptakan. Aku berharap senyumman itu bisa meluluhkan hatinya. Tapi ternyata senyum itu hanya tinggal senyum. Senyuman manisku teracuhkan begtu saja, dia melengah tanpa membalas sedikitpun. Hatiku menyuruh sabar .. sabar .. dan tetap sabarr.
Perjuangan belum usai !!
Aku tidak boleh menyerah ...
Aku harus tetap berjuang sampai senyuman manisku dibalas dengan senyuman yang paling manis.
” Oya ,, Rha , besok materi presentasi kita tentang wawancara, drama dan pidato.” Lagi-lagi senyumku mengembang sambil menyapanya. Aku bersyukur punya bahan pembicaraan supaya bisa berbicara dengannya. Dia diam saja, lagi-lagi tanpa ucapan terima kasih. Ah ,, sudah biasa.
Hari ini kos’an sepi, sunyi, tak ada suara-suara yang berarti. Mungkin semua orang sibuk dengan aktivtasnya disekolah. Aku tau, di kamar sebelah ada Zahra. Aku juga tau, hanya aku dan Zahra yang tersisa di kos’an hari ini. Aku sengaja berangkat agak siang ke sekolah,karena aku tau Zahra masih siap-siap di kamarnya. Aku beranikan diri menghampirinya dan mencoba menyapanya. Bermaksud untuk mengajak beangkat kesekolah bersama, tapi sayang sepertinya usahaku kembali sia-sia. Dia seolah-olah menganggapku tak ada. Saat itu, tak sanggup lagi rasanya hatiku menerima perlakuan seperti ini. Dia hanya diam saja tak perdulikan omonganku.
” Rha ,, aku kesekolah duluan ya.” Lagi-lagi aku tabah-tabahkan hati setelah sekali lagi dicuekin. Dalam hati aku berdoa semoga Allah melembutkan hatinya dan bisa menerima aku kembali menjadi sahabatnya. Sayang ,, persahabatan indah itu harus pupus di tengah jalan setelah sekian lama membinanya
” Boleh bicara, Rha ?” Aku menghampirinya di perpustakaan. Dia cuek, tanpa mmenoleh sama sekali, matanya lekat tertuju pada buku yang sedang dia baca.
“ Rha ,, kamu dengar suara aku kan ?” kali ini suaraku terdengar serak.sedih sekali dicuekin seperti ini.
“ Mau ngomong apa ?” Itu suara Zahra. Alhamdulillah akhirnya suara itu terdengar juga setelah sekian lama aku menantinya.
“ Kita tidak boleh seperti ini terus Rha, diam-diaman tanpa kenal dosa.sedih hati ini Rha, kita bersahabat sejak lama, sayang hanya karena masalah sepele kita bermusuhan seperti ini. Mari kita rajut kembali benang-benang itu menjadi tali ukhuwah yang lebih indah, mari kita bina persahabatan kita kembali.” Air mataku berjatuhan dari pelupuknya. Air mata itu mengalir mengairi pipi mulusku lalu merambas ke sela-sela jilbab putih yang aku pakai. “Rabb ,, hati ini sedih sekali.” Batinku pelan.
“ Terserah ....” Hanya itu jawaban darinya.
“ Terserah apanya, Rha ?”
“ Ya terserah .”
“ Kamu ga boleh seperti itu Rha, kasihlah komentar harus seperti apa hubungan kita,harus dibawa kemana persahabatan kita ?”
“ Up to you !” itu jawaban singkat yang betul-betul menyinggung perasaanku. Sedikitpun dia tidak menghargai aku sebagai sahabatnya. Dari jawaban ketus itu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa Zahra tak lagi menganggap diriku sahabatnya.
“ Terima kasih Rha atas jawabanmu, setidaknya aku tau apa yang harus aku lakukan setelah ini. Maaf kalau aku selama ini tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu, maaf kalau selama ini aku sering merepotkanmu dan maaf kalau aku harus mengambil keputusan yang aku sendiri tak sanggup melakukannya.
Tapi sanggup tak sanggup aku harus tetap menjalankannya. Air mtaku bertambah deras membasahi pipi,suaraku gemetar tak terhingga. Sebelum beranjak aku kuatkan hati untuk mengulurkan tangan ingin bersalaman, mungkin jabat tangan terakhir. Alhamdulillah dia menyambutnya walaupun hanya sekilas saja.
Aku beranjak ke luar dengan hati pilu. Keputusanku sudah bulat, aku harus hijrah ke tempat lain. Aku tidakmau menjadi masalah disini. Mengalah bukan berarti kalah bukan ???
Namun, sungguh sejujurnya aku tak mengharapkan kejadian ini. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja.
Sudahlah ...
Apa dayaku ,,,
Harapan aku selama ini tak kunjung ku dapatkan, ku tak temukan lagi ”senyuman dari sahabatku”.
SAHABAT
Aku bersembunyi ..
Bukan berarti akumenghindar
Aku tenggelam..
Bukan berarti aku menghilang
Tapi..
Semua itu aku lakukan
Demi kebaikan kitabersamanya
Dia
datang dengan wajah cemberut, yang duh .... aku tak suka, wajah itu
mengingatkan aku pada musuh-musuh teroris yang seakan-akan ingin
memangsa negeri ini sampai tak berdaya. Gayanya, senyum sinisnya,
bicaranya, diamnya dan aku muak pada semua yang berhubungan dengannya.
Iya ... aku tau, dia sahabatku. Sahabat yang selama ini ada disampingku, berjuang dan hidup di tempat yang sama, bahkan tak jarang makan
dan tidur bersama. Tapi sedihnya kebersamaan yang indah itu harus
terenggut begitu saja, kami mengalami perang dingin semenjak kebersamaan
itu terekat semakin indah. Awalnya tidak ada yang salah, kami tetap
seperti dulu, akrab dan selalu bersama, dimana-mana berdua, dimana diri
ini berada, disitu pun ada dia. Tapi seketika bencana datang menghadang,
ombak yang besar menghancurkan sendi-sendi persahabatan kami, dan yang ada kini hanya tinggal puing-puing tak berarti.Aku sedih .. !!
Iya ,, aku sangat sedih. Dalam waktu sekejap persahabatan yang indah itu hancur berkeping-keping. Wajah manis berubah menakutkan, tak ada kata yang keluar dari bibirku dan bibirnya. Bibir itu mengatup tanpa komando. Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan, kebersamaan berubah menjadi perpisahan. Meski raga bersatu tapi jiwa terpisah.
Sering aku bertanya dalam hati, kenapa ini bisa terjadi?? Mengapa kesedihan yang sama harus terulang kembali, mengapa harus ada kesedihan setelah kesedihan itu pergi ??
Tapi sayang, tak ada jawaban !
Pertanyaan hanya tinggal tanya. Aku hanya manusia biasa, aku tetaplah insan lemah yang tak punya daya. Aku tidak bisa mengelak dari bencana itu.
“ Rha, besok giliran kelompok kita untuk presentasi, tadi siang Fachri kasih tau aku.” Aku beranikan diri menghampirinya. Aku harus bisa melawan syetan itu. Aku tidak mau dicap sebagai orang yang suka memutuskan tali silaturrahmi. Seperti sabda Nabi dalam sebuah hadistnya : “Tidak akan masuk surga orang yang mendiamkan saudaranya selama lebih dari 3 hari.”
Percuma beribadah sepanjang masa kalau akhirnya tetap masuk neraka. Itulah kenapa aku mati-matian ungkapkan sepatah dua patah kata padanya. Aku tak peduli apakah dia mau dengar atau tidak, ditanggapi atau tidak aku tak peduli. Biar saja, yang yang penting tugas dan kewajibanku selesai. Dia mengangguk sambil bergumam pelan, aku tidak sempat mendengar gumaman itu karena aku terlanjur mengangkat kaki dari sana, aku tak punya daya untuk terus menopang kaki di tempat itu. Tak ada ucapan terima kasih yang aku dengar dari bibirnya. Biarlah ! aku tak butuh ucapan terimakasih itu, yang pasti aku lega karena kewajiban itu berhasil aku tunaikan. Setidaknya aku tidak akan masuk neraka karenanya. Itu saja !
Lambat laun perang dingin itu tercium juga. Teman-teman sekelas pun heran melihat aku yang tidak seperti biasanya. Mereka yang tau aku dan kenal siap aku, mereka yang selalu melihat aku dengan Zahra selalu bersama-sama. Tapi sekarang .. mereka tak melihat lagi hal itu. Mungkin mereka juga sudah tau masalah antara aku dan Zahra.
Aku ditemui Nabil setelah bel pulang sekolah di ruang kelas.
“ Syah, ada masalah ya sama Zahra ?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk disampingku. Mau tak mau aku harus jujur.
“ Iya, aku juga ngga tau kenapa bisa terjadi ?” ujarku.
“ Awalnya gimana sih kejadiannya ?” Nabil balik Tanya.
“ Aku rasa karena masalah kemarin, dia nanya tapi aku menanggapinya kurang ramah. Seharusnya dia juga ngerti kalau saat itu aku lagi bingung dan panik.”
” Kamu kenapa jawabnya kurang ramah?” protes Nabil.
”Aku kesal aja, dia ngga sopan sama aku. Memang dia anggap aku apa ?” Aku balik protes.
” Aku tau, semuanya terjadi karena kalian sama-sama panik dan terjadilah salah paham seperti itu. Sekarang kamu lupakan saja masalah itu.kembalilah bersikap biasa, bersahabatlah seperti dulu. Aku ngga suka kamu seperti itu.
” Sebenarnya aku yang salah, seharusnya aku bersikap bijaksana, tidak boleh membalas keegoan dengan keegoan yang lain.”
” Nah ,, itu kamu tau sendiri. Sekarang kamu harus seperti dulu lagi, sapa dan bicaralah denganya. Jangan takut dicuekin, itu tantangan mulia untukmu. Ayo Aisyah ...berjuanglah ! sangat mulia orang yang menghubungkan silaturrahmi.” Nabil menasehatiku. Aku bersyukur punya teman yang perhatian dan suka mengingatkan. Dia memang teman yang baik.
” Makasih ya ,, Bil. Aku akan berjuang mengembalikan jalinan itu kembali. Mohon doanya ya !!
Aku menggerakan bibir sambil membentuknya menjadi lebih indah, itu senyuman paling manis yang aku ciptakan. Aku berharap senyumman itu bisa meluluhkan hatinya. Tapi ternyata senyum itu hanya tinggal senyum. Senyuman manisku teracuhkan begtu saja, dia melengah tanpa membalas sedikitpun. Hatiku menyuruh sabar .. sabar .. dan tetap sabarr.
Perjuangan belum usai !!
Aku tidak boleh menyerah ...
Aku harus tetap berjuang sampai senyuman manisku dibalas dengan senyuman yang paling manis.
” Oya ,, Rha , besok materi presentasi kita tentang wawancara, drama dan pidato.” Lagi-lagi senyumku mengembang sambil menyapanya. Aku bersyukur punya bahan pembicaraan supaya bisa berbicara dengannya. Dia diam saja, lagi-lagi tanpa ucapan terima kasih. Ah ,, sudah biasa.
Hari ini kos’an sepi, sunyi, tak ada suara-suara yang berarti. Mungkin semua orang sibuk dengan aktivtasnya disekolah. Aku tau, di kamar sebelah ada Zahra. Aku juga tau, hanya aku dan Zahra yang tersisa di kos’an hari ini. Aku sengaja berangkat agak siang ke sekolah,karena aku tau Zahra masih siap-siap di kamarnya. Aku beranikan diri menghampirinya dan mencoba menyapanya. Bermaksud untuk mengajak beangkat kesekolah bersama, tapi sayang sepertinya usahaku kembali sia-sia. Dia seolah-olah menganggapku tak ada. Saat itu, tak sanggup lagi rasanya hatiku menerima perlakuan seperti ini. Dia hanya diam saja tak perdulikan omonganku.
” Rha ,, aku kesekolah duluan ya.” Lagi-lagi aku tabah-tabahkan hati setelah sekali lagi dicuekin. Dalam hati aku berdoa semoga Allah melembutkan hatinya dan bisa menerima aku kembali menjadi sahabatnya. Sayang ,, persahabatan indah itu harus pupus di tengah jalan setelah sekian lama membinanya
” Boleh bicara, Rha ?” Aku menghampirinya di perpustakaan. Dia cuek, tanpa mmenoleh sama sekali, matanya lekat tertuju pada buku yang sedang dia baca.
“ Rha ,, kamu dengar suara aku kan ?” kali ini suaraku terdengar serak.sedih sekali dicuekin seperti ini.
“ Mau ngomong apa ?” Itu suara Zahra. Alhamdulillah akhirnya suara itu terdengar juga setelah sekian lama aku menantinya.
“ Kita tidak boleh seperti ini terus Rha, diam-diaman tanpa kenal dosa.sedih hati ini Rha, kita bersahabat sejak lama, sayang hanya karena masalah sepele kita bermusuhan seperti ini. Mari kita rajut kembali benang-benang itu menjadi tali ukhuwah yang lebih indah, mari kita bina persahabatan kita kembali.” Air mataku berjatuhan dari pelupuknya. Air mata itu mengalir mengairi pipi mulusku lalu merambas ke sela-sela jilbab putih yang aku pakai. “Rabb ,, hati ini sedih sekali.” Batinku pelan.
“ Terserah ....” Hanya itu jawaban darinya.
“ Terserah apanya, Rha ?”
“ Ya terserah .”
“ Kamu ga boleh seperti itu Rha, kasihlah komentar harus seperti apa hubungan kita,harus dibawa kemana persahabatan kita ?”
“ Up to you !” itu jawaban singkat yang betul-betul menyinggung perasaanku. Sedikitpun dia tidak menghargai aku sebagai sahabatnya. Dari jawaban ketus itu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa Zahra tak lagi menganggap diriku sahabatnya.
“ Terima kasih Rha atas jawabanmu, setidaknya aku tau apa yang harus aku lakukan setelah ini. Maaf kalau aku selama ini tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu, maaf kalau selama ini aku sering merepotkanmu dan maaf kalau aku harus mengambil keputusan yang aku sendiri tak sanggup melakukannya.
Tapi sanggup tak sanggup aku harus tetap menjalankannya. Air mtaku bertambah deras membasahi pipi,suaraku gemetar tak terhingga. Sebelum beranjak aku kuatkan hati untuk mengulurkan tangan ingin bersalaman, mungkin jabat tangan terakhir. Alhamdulillah dia menyambutnya walaupun hanya sekilas saja.
Aku beranjak ke luar dengan hati pilu. Keputusanku sudah bulat, aku harus hijrah ke tempat lain. Aku tidakmau menjadi masalah disini. Mengalah bukan berarti kalah bukan ???
Namun, sungguh sejujurnya aku tak mengharapkan kejadian ini. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja.
Sudahlah ...
Apa dayaku ,,,
Harapan aku selama ini tak kunjung ku dapatkan, ku tak temukan lagi ”senyuman dari sahabatku”.
SAHABAT
Aku bersembunyi ..
Bukan berarti akumenghindar
Aku tenggelam..
Bukan berarti aku menghilang
Tapi..
Semua itu aku lakukan
Demi kebaikan kitabersamanya
Don’t Puasa (Putus Asa)
“Kamu di pecat” suara itu masih terngiang di telinganya..Dani, mahasiswa UI Depok, ia merantau ke kota karna keinginannya yang sudah bulat untuk mencari ilmu disana. Ia menghidupkan dirinya sendiri dengan bekerja keras, untungnya ia mendapatkan beasiswa itu ketika tes , jadi ia hanya bekerja mencari uang untuk membeli makana sehari-hari dan untuk mebayar uang kosannya. Dan semua itu hilang ketika bosnya memecatnya. Ia bingung atas tindakan bosnya itu.
“di pikir-pikir, koq bisa ya gw di pecat, perasaan gw kerja gak setengah-setengah” gumam Dani ketika berdiam diri di ujung kantin kampus.
Tak jauh dari situ, datang Rendi membawa dua mangkok baso.
“hey... lo bengong mulu, masih mikirin yang kemaren yah...” kata Rendi sembari duduk di sebelah Dani dan menaruh mangkok baso itu.
“ya sich, lagian aneh juga, koq bisa gw di pecat, lo tau khan kalo gw kerja dengan keras”
“mang sekeras apa...?”
“ya lo... gw serius nich, lo malah becanda”
“ya, gw tau, keliatan koq dari kebiasaan lo yang suka ngantuk”
“truz, gw makan pake apa dong entar, ya dah mah sebentar lagi awal bulan, gw bayar kosan pake apa?”
“masalah bayar kos sama gw za, khan kita sekamar, untuk bulan besok gw za dech yang bayar, ga apa-apa koq. Lagian lo khan pernah bilang ke gw, kalo hidup itu jangan di ambil pusing and harus selalu ceria entar cepet tua, ya khan...”
“ya sich, tapi lo harus bantu gw cari kerja. Kalo gw ga dapet kerja, bisa-bisa lo yang terus-terusan bayar kos. Tapi ga apa-apa ya... he”
“ye... enak bener, bisa bangkrut bank gw”
“he... becanda koq, tapi lo janji ya harus bantu gw cari kerja”
“siap bos... by the way, makan dulu tuh baso lo, apa mau gw bantu buang ke perut gw, he...”
“ye... gw lagi laper tau” Dani menghabiskan basonya.
***
Di kosan.
“nih ada koran, lo cari aza mau kerja apa, tar gw bantuiin dech...” papar Rendi sambil melemparkan koran ke tempat tidur Dani.
Dani mengambil koran itu.
“hm...” Dani membaca berbagai iklan yang ada.
“kayanya ga da yang cocok buat gw...” Dani mengeluh.
“koq, lo jangan puas gitu dong, maksud gw lo jang putus asa gitu dong” Rendi menyemangati.
“truz gimana cara gw cari kerja...?”
“ya udah gini aza, lo sekarang mau kerja apa? and keahlian lo apa?”
“gw sich cuma bisa nulis”
“kenapa lo gak bikin karya tulis aza, semacam puisi atau gak cerpen gitu”
“emang gw bisa...?”
“lo aneh ya... belum juga juga di coba”
“OK gw coba. Thanks yah”
“biasa aza” Rendi menyombongkan diri, mengangkat kedua kerah bajunya. Dengan gaya petinju Chris Jhon, Dani menonjok Rendi. Itu tonjokan persahabatan.
Beberapa menit berlalu. Dan...
“ha... ha... ha...” mereka tertawa bersama.
***
2 hari berlalu.
“Alhamdulillah”
***
Keesokan harinya.
“woy bangun, dah siang tau, masa lo kalah sama ayam, udah cepetan bangun”
“ah... ngantuk tau, sekarang khan hari minggu, gw mau tidur dengan tenang, lagian gw males belum dappet kerjaan” jawab Dani semaunya dan memperbaiki posisi tidurnya yang sudah teracak-acak Rendi.
“hey... bangun dulu, gw punya kejutan buat lo”
“ah... males, entar aza dech”
“oh ya udah kalo gak mau, gw bilang aza kalo Dani ga jadi kerjanya. Sayang juga ya, kayanya sich tu orang seneng kalo lo kerja di sana, mau gimana lagi kalo lo gak mau, ya udah”
“lo tadi ngomong apa?” Dani langsung berganti posisi, seperti anak kecil yang mau dengerin dongeng sebelum tidur.
“koq lo bangun, katanya mau tidur dengan tenang”
“ye... give to know me please...”
“bener mau tau...”
Dani menganggukkan kepalanya
“gini, cerpen yang lo kirim itu di terima dengan baik sama kepala redaksi majalahnya, and He say me if you can to work there, bikin karya yang bagus yang sebanyak-banyaknya”
“what...!?”
“if you not believe me, lo tanya aza langsung sama kepala redaksinya. Lo tau khan tempat redaksinya”
Dani menahan air matanya, sedikit lebay sich, tapi gak apa-apa.
“thanks for all about your aid, you are real my best friend”
Mereka berpelukan, inget teletubis, he...
Langganan:
Postingan (Atom)
